Archive for Maret, 2017

Keputusan untuk Rico

Maret 23, 2017

I. Cerita Bu Ila

Memutuskan itu mudah, tetapi bertanggung jawab atas keputusan yang kita buat itu yang sulit. Hampir satu jam Kei duduk termenung di mejanya. Ada-ada saja! Kei mengetuk-ngetuk tidak jelas  beberapa jari tangan kanannya di atas meja. Dia menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.. masalah satu belum terselesaikan masalah lain sudah muncul lagi. Sulitnya jadi pemimpin.

“Bu..” 

Kei mengangkat wajahnya. Bu Ila, wakil kurikulum sudah berdiri di depannya. “Ibu mau memanggil Bu Muna sekarang?”

Kei mengangkat alis matanya. Terbayang dalam benaknya sosok Bu Muna, sorot matanya, wajahnya yang menimbulkan kesan yang Kei agak aneh menerjemahkannya. “Tidak Bu, sepertinya tidak Pas kalau memanggil sekarang.Biar saja emosi Bu Muna mereda dulu.Nanti saja sorean. Semoga saja tidak ada guru yang mengompori.”

“Baik Bu.. “

“Bu Ila mau kemana?”

“Balik ke ruangan saya.”

“Boleh saya dipanggilkan satu orang  yang di ruangan itu saat kejadian?”

“Banyak Bu!”

“Satu orang saja..!”

“Pak Titis saja ya Bu? Yang melerai kejadian tadi”

Kei mengangguk, matanya mengikuti punggung Bu Ila yang berjalan keluar ruangannya. Ia menarik nafas lagi dan membuangnya dengan kasar, terngiang kembali cerita Bu Ila yang langsung menyambutnya dengan laporan tentang kejadian beberapa saat lalu, padahal  baru saja ia duduk di salah satu kursi di ruang wakil-wakilnya  setelah seharian mereka rapat eveluasi manajemen.

Rico, siswa kelas XII, menendang meja di depan Bu Muna sambi mengatakan kata-kata yang tidak seharusnya  dia ucapkan kepada orang yang lebih tua terlebih guru “Berengsek Lo!”..Berawal dari Rico dan Hapenya yang dilarang dibawa ke ruang ujian. Hp itu disita Bu Nana, yang saat itu bertugas mengawas di ruangannya untuk diserahkan kepada Panitia Ujian. Menurut Bu Nana Rico mencari jawaban soal ujian dari hapenya, browsing. Tetapi kemudian dlam perjalanan  hape itu diambil alih Bu Muna, untuk memaksa Rico menyelesaikan tugasnya. Rico mencoba menjelaskan dalam sanggahannya bahwa ia tidak sedang mencari jawaban tetapi ingin melihat berapa lama lagi waktu uian berlangsung.  Agar hapenya jangan ditahan ia juga menjelaskan bagaimana pentingnya Hape itu buat dia. Karena melalui hape itu ia dapat usaha kecil-kecilan sambil sekolah. Tapi Bu Muna tetap tidak memberikan. Bahkan sampai ibunya datang atas permintaan Bu Muna pun hape itu tetap tidak diberikan. Bu Muna bukan tanpa alasan mengambil alih hape Rico, Rico masih berhutang nilai padanya dan Bu Muna ingin Rico menyelesaikannya segera. Kalau tidak hapenya akan ditahan sampai selesai ujian nasional. Terjadilah kejadian itu. Rco Dan  Bu Muna tidak terima. 

Beberapa guru ada yang mencoba menetralisir keadaaan. Beberapa guru lain ada yang tidak bereaksi apa-apa. Beberapa guru ada yang terpancing emosi untuk Rico.

“Anak begitu , harus diberi sangsi! Kalau tidak nanti diikuti oleh anak2 yang lain! Mau jadi apa sekolah ini? Jangan diluluskan saja!” Kei bergidik. 

“Lebih jelasnya sebaiknya Ibu berbicara langsung dengan Bu Muna?” Bu Ila mengakhiri ceritanya. Kei berdiri

” Nanti saja… di ruangan saya”

 dan berlalu keluar dari ruangan itu. Lupa sudah  untuk apa sebetulnya tadi ia datang ke ruangan itu.

 

II. Mencari Informasi

Kei tersadar dari lamunannya. PaK Titis muncul di pintu ruangannya. seperti biasa ia pasti menggerakan sebentar bahunya ke bawah membungkuk sopan dengan senyum lebar khasnya. “Permisi Bu, memanggil saya?”

Kei  berdiri dan berpindah ke meja tamu.

“Ya Pak Titis, silahkan duduk Pak ada yang ingin saya ketahui!”

Pak Titis duduk.sambil mendengarkan Kei melanjutkan pertanyaannya.

“Kejadian tadi Pak. Kenapa bisa begitu?”

Iklan

Syifa dan Waktu Luangnya

Maret 19, 2017

syifa ipb

Anakku yang nomor 2 ini memang senang dengan berbagai aktifitas. Tapi tidak pernah terpikirkan dengan pembawaannya yang kadang membuat jutek dan tidak senang tampil di depan orang banyak  dia akan memilih tari.

Selagi SD dia hanya tertarik tentang berbagai hal yang bisa membuatnya masuk 5 besar atau 3 besar peringkat tertinggi di kelasnya. Berbagai kursus yang ingin diikutinya untuk membuat hal itu terwujud  selalu disodorkan padaku.  Dan kadang saya selalu bertanya baik, “Yakin bisa membagi waktu untuk semua hal itu?”. Padahal di satu sisi saya dan suami mulai menimbang dan menghitung bagian keuangan mana yang harus dikecilkan karena kebutuhannya dan kebutuhan 2 anakku yang lain dan kebutuhan lain  juga harus terpenuhi.

Tapi yang membuat lega dia selalu konsekuen dengan tujuan pilihannya.

Ketika SMP dia sibuk dengan tambahan kegiatan lain, Paskibra. Saking sibuknya setiba di rumah sering sampai tidak sempat berpanjang lebar untuk  sekedar berbasa-basi. Dan kadang lewat begitu saja di depan kami seperti angin. Kami sepertinya tidak ada  di depannya, kalau tidak disapa duluan atau kalau dia tidak sedang benar butuh bantuan.

Ketika SMA kegiatannya Paskibranya menghilang tetapi bertambah dengan kegiatan rokhis, dan berbagai keinginannya untuk mengikuti berbagai kejuaraan. Walaupun tidak pernah ada satupun yang menang. Setiap bulan  selalu saja ada data lomba yang ingin diikutinya. dan tidak pernah bosan selalu ikut dan ikut lagi. Plus, keinginannya untuk menjadi mahasiswa kedokteran yang selalu dia diskusikan dengan kami dan gurunya terutama guru BP. Tetapi akhirnya beralih ke Mahasiswa pertanian dengan berbagai pertimbangan berat dipikirannya, karena rata-rata nilainya akan minim untuk lolos dijalur undangan kedokteran. Belum lagi hobbynya membaca membuat dia bisa mengahbiskan waktu liburnya untuk membaca saja. Sampai saya harus mengambil bukunya dan menyuruhnya bermain keluar sekedar untuk kenal tetangga.  karena khawatir menjadi anak yang tidak mampu bersosialisasi.

Bukan tanpa sebab saya menyuruhnya bersosialisasi dengan tetangga sekitar, karena kehadirannya selama tidak pernah diketahui, tidak ada tetangga yang tahu bahwa anakku 3. sepengetahuan mereka hanya 2. Lucu ya? padahal kami sudah hampir 10 tahun di lingkungan sekarang ini. Tapi itulah syifa yang sekarang menjadi Mahasiswa IPB bidang Agronomi dan Holtikultura.

Setelah menjadi mahasiswa, mimpi-mimpinya semakin melambung. setiap pulang dia selalu bertanya tentang bagaimana agar ia bisa ikut pertukaran pelajar dengan universitas di luar negeri, bisa S2 di luar negeri,  boleh tidak ikut berbagai macam kegiatan kampus yang menunjang cita-citanya dan bagaimana sekarang bisa mendapat beasiswa pendidikan seperti teman-temannya.

Dan ngin mendapat beasiswa menjadi obsesi terdekatnya. Waktu ditanya kenapa berkeinginan itu, Ia menjawab dengan enteng “Lebih keren Bu kalau bisa sekolah dengan beasiswa! ” dan yang membuat saya tersenyum geli ketika kakaknya membisikkan apa yang diinginkan sebetulnya klau mendapat beasiswa.

“Mbak Aes kita kan bisa mendapat uang saku lebih banyak dari Ibu kalau bisa sekolah dengan beasiswa, karena pos uang pendidikaan akan berkurang.” Kita? Kita itu Dia, kakaknya dan adiknya yang memang setiap bulan selalu diberi uang kebutuhan pas-pasan. Yang penting cukup. Ada-ada saja, tapi betul juga!

Dan,  Hari ini saya terheran-heran melihat fotonya muncul di tribunenewsbogor dengan berpakaian tari lengkap dan senyum sumringah.  Ini kegiatan baru yang lain lagi yang masuk ke dalam sejarah hidupnya. Memang dia pernah bercerita tentang keinginannya untuk mengikuti pertukaran pelajar dan syaratnya harus mampu membawakan salah satu budaya daerah. Tapi tidak pernah terpikir bahwa dia akan menari. Kan anakku itu selalu gagah kalau berjalan, walau sesekali memakai pakaian rok tapi tingkahnya tidak pernah semanis anak perempuan lainnya, cenderung lebih dominan ke sikap anak tomboy.  Bukan hal yang heran kalai menjadi penari benar-benar  hal yang tidak pernah terbayangkan.  Kalau bernyanyi …sesekali, saya mendengarkan senandungnya. Saya fikir itu yang akan ia lakukan, tetapi ternyata ..hahaha. Walah, anakku yang ini walau tidak sesigap kakaknya tapi ternata semakin kesini semakin terlihat bahwa dia punya talenta  dan energi lebih. Dan bagusnya dialurkan untuk hal-hal positif. Dan menari mudah-mudahan dapat membuat  sifatnya yang kadang kaku dan membuat jutek menjadi lebih halus sehingga mampu menyeimbangkannya syukur-syukur menghilangkan yang bagian itu.

Sebetulnya keraguan sempat muncul saat  setamat SMA dia harus kost, karena melanjutkan pendidikan di luar kota. Sifatnya yang jarang bersosialisasi, dan keinginan kuatnya yang kadang menerobos hal-hal yang tidak terpikirkan oleh kami,  membuat kami harus banyak-banyak memberikan wejangan ini dan itu agar dia selalu hati-hati. Tapi sejauh ini Alhamdulillah dia mampu menenangkan keraguan kami itu dengan membuktikan bahwa dia mampu menjaga diri.

Menjadi anak kost justru membawa perubahan baik. Karena menumbuhkan dengan pesat sifat sosial dan kemampuan bersosialisasinya. Hal itu berwujud berbagai kegiatan sosial yaitu kegiatan sebagai empati untuk mebantu teman-temannya yang kesulitan. Hal itu ia lakukan bersama-sama teman-temanya yang bergabung menjadi satu timnya. Tentu saja  aktifitas diwaktu luangnya menjadi bertambah lagi. Sesekali mereka berkumpul untuk menghimpun dana dengan membangun keterampilan baru, membuat berbagai kerajinan tangan dan makanan untuk dijual dalam bazaar. Dan hasilnya disumbangkan. Baiknya anakku.

Hal lain yang paling melegakan ia tidak pernah lupa untuk beribadah wajib, menjalankan shalat lima waktu tepat  pada waktunya tidak pernah  ia tinggalkan, demikian juga dengan ibadah sunah rutin : mengaji dan shalat tahajud. Hal itu  kami ketahui dari kesehariannya kalau pulang ke rumah dan catatan-catatan kecil yang selalu ia tempel di dinding kamar kostnya.

Anakku ini memang padat kegiatan di waktu luangnya tetapi sejauh ini dia mampu menjalankan dengan baik sehingga kewajibannya sebagai pelajar tetap terpenuhi. Dan ia tidak pernah mengeluh dengan apa yang ia lakukan. Hal itu membuat saya yakin bahwa ditengah mencari jati dirinya anakku mampu mengebaskan kekhawatiran yang selama ini pernah singgah dalam diri kami. Semoga selalu begitu. Semoga cita-citanya tercapai dan Allah SWT selalu melindunginya. aamiin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Materi Transformasi Geometrri

Maret 7, 2017

Transformasi Geometri

Untuk kelas XI UPW

Bulan Februari 2017

Maret 7, 2017

IMG-20170211-WA0058Bulan Februari merupakan bulan yang tidak terlupakan bagi kami sekeluarga dan mungkin bagi putri sulungku. Bulan itu bukan saja ada satu hari yang menjadi sejarah aku lahir ke dunia ini tetapi juga ada hal lain yang menjadi goresan catatan si sulung, goresan untuk kami juga, khususnya untukku.
Sabtu 11 Februari 2017, putri sulungku memberi catatan baru tentang sejarah perjalanannya, karena pada hari itu ia meraih gelar sarjana komputer dari Universitas Guna Darma. Alhamdulillah, langkah awal untuk membekali kemandiriannya telah ia pegang.

Hari itu ia di wisuda di JCC didampingi ibu bapaknya (saya dan suami), adiknya yang masih semester 3 di IPB dan 2 orang sahabat karibnya Nike dan Dea. Putriku resmi menyandang gelar sarjana komputer, Nareswari Pradiptas Nastiti, S.Kom. Selamat ya Nak…

Tidak  hanya itu saja 2 hari kemudian ia harus mengawali langkahnya sebagai karyawan baru di sebuah lembaga IT  di jalan Dr. Sahardjo, Jakarta Selatan. Lamaran kerja yang ia masukkan 2 bulan lalu ke 3 perusahaan akhirnya menyangkut di 2 perusahaan IT, salah satunya di perusahaan yang saat ini dia geluti, PT. Trimitra Sistem Solusindo. Semoga Allah memberi kemudahan dalam setiap tugas yang harus ia kerjakan. Dan semoga begitu juga di hari-hari  depan yang akan ia lalui, aamiin.

Bukan aku terlalu lebih menilainya, tetapi si sulung merupakan anak yang supel, santun kepada orang tua, sederhana, taat beribadah dan ringan tangan dalam membantu siap saja, termasuk menolong kesulitan adik-adiknya.  Dalam satu hal si sulung telah memberikan pelajaran terbaik kepada adiknya, bahwa kalau seseorang selalu mempermudah dalam membantu kesulitan orang lain maka segala kesulitannya juga juga akan dipermudah. Tidak penting orang yang ia bantu memberikan balasan atau tidak. Semoga anakku selalu memperoleh kemudahan dalam segala hal yang harus dikerjakannya dan selalu demikian ke depannya, Aamiin

Bulan itu, Bulan februari 2107 menjadi hadiah ulang tahun yang tidak terlupakan dalam hidupku. Dan, Masih ada 2 anakku lagi yanglain, yang harus kami dorong agar dapat mencapai cita-citanya. Si Tengah yang bercita-cita ingin dapat beasiswa ke Jerman dan si Bungsu yang ingin menjadi pemain bola dunia.. Hanya Allah yang mengetahui jawabannya, semoga cita-citanya tercapai. Tetapi apapun yang mereka peroleh ke depan semoga anakku menjadi orang yang berguna, mampu mensejahterakan dirinya dan orang-orang di sekitarnya dan menjadi anak yang sholeh dan solehah. Aaminn, Semangat..!!.